MENGUKIR KISAH DI UJUNG PENA - KARYA SISWA KELAS 9 SMP PLUS ISLAMIC VILLAGE

MENGUKIR KISAH  DI UJUNG PENA

Menginspirasi dari Setiap Jejak Ceritanya 



PEMBIMBING  BAPAK  ABDUL GOPUR FIRMANSYAH, M.Pd.

DAFTAR ISI

Bagian 1

Menakar Imajinasi dengan Sebuah Karya

 

1.     Wanita Masih Banyak/Alfatih

2.     Pesan Di Balik Jendela/Marsa Shalom Audeli Adzra

3.     Persahabatan Abadi/Julyetha

4.     Ketulusan Seorang Ayah/Raf

5.     Aku Kita dan Lautan/Syafira

6.     Kisah Karir Budi/Hafizh

7.     Two Wonder Of The Zephyra Forest/Davina

8.     Hati Seorang Pemenang/Rafa Eshmael Nasution

9.     Once Upon a Hero/Kirani aqilla Putri

10.  Seseorang Ingin Menjadi Terkuat/Langit

11.  From Bestfriend To Biggest Enemy/Zahra Aliyah

12.  Api Akan Padam/Ariesto

13.  Kebersihan/Fardan Ary

14.  Kita dan Berlian/Zara

15.  Perpustakaan/Labiby

16.  Emas dan Juga Emas dan Emas lagi/Ibrahim

17.  Air Keringat Keluarga dalam Uang/Calliysta

18.  Persahabatan Dua Dunia/Keira

19.  Perjuangan Sang Ayah/Fardan Agistu

20.  Perjalanan Seekor Kucing/Raul

21.  Pertemanan dan Perkataan /Kanaya

22.  Harapan Hidup/Dennisa

 

BAGIAN 2

Meninggalkan Jejak dengan Karya

 

1.     Bias Pelangi/Zaki Dony Kahfi Ridwansyah

2.     Menunggu Senja/Aruna

3.     Pesan Terakhir/Dhiya

4.     Permintaan Sang Putri/Elysia

5.     Persahabatan yang Hancur/Al queena

6.     Di Bawah Cahaya Bulan Purnama/Nadila

7.     Badai Telah Berlalu/Keyla

8.     Keajaiban dalam Persahabatan/Raissa

9.     Tidak Ada Kesempatan Kedua/Athaya

10.  Sayang yang Salah/Fahmy

11.  Jaga Diri/Aqsha

12.  Hari pertama Sekolah/Ameer

13.  Rumah Tua/Bima

14.  Terjebak Di Dunia Fantasi/Talitha

15.  Giat/Rafka

16.  Manis  /Marsha Najwa

17.  Prasangka/Alerio

18.  Mimpi yang Terkubur/Rafi

19.  Tiga Sahabat/Rique

20.  Pagi yang Cerah /Fadlan

21.  Langkah Amir Menjadi Pemain Sepak Bola/Farizy

22.  Terorres Maris/Davin

 

BAGIAN 3

Inspirasi Menembus Batas Ruang dan Waktu

 

1.     Waktu Bagi Seorang Anak/Callysta

2.     Langkah Kecil Menuju Impian Besar/Raul

3.     Lukisan yang Berharga/Aliyah

4.     Impian Seorang Sahabat /Julyetha

5.     Kisah Pahlawan Kecil di Desa/Marsa Shalom

6.     Menggapai Cita-Cita/Zara

7.     Kakek/Kanaya

8.     Jiwa dari Seorang Anak Perempuan/Kirani

9.     Perjuangan Seorang Pemulung/Dennisa

10.  Meraih Kekayaan dari Makna Hidup

11.  Gadis Bersayap/Ariesto

12.  Perjuangan Sang Ayah /Ibrahim

13.  Anak Tukang Becak Sukses/Fardan Agistu

14.  Hujatan Kesuksesan/Syafira

15.  Rudy Habibie/Raf

16.  Hidden Beauty/Davina Khaziza Eureska

17.  Jejak Lukisan Maya /Labiby

18.  Cahaya di Kegelapan/Hafizh

19.  Sang Pelaut Hebat/Keira

20.  Aroma Kenangan /fardan Ary

21.  Penakluk Everest di India /Langit,

22.  Gajah Diikat Tali/Rafa 

 

BAGIAN 4

Melukis Kisah Inspirasi

 

1.     Gadis Cantik dan Cita-Citanya/ Marsha Najwa R

2.     Melangkah Menuju Mimpi/Thalita

3.     Impian yang Besar/Keyla

4.     Langkah Keberanian di Tikungan Terakhir/Athaya

5.     Bintang di Kegelapan/Al queena

6.     Melampaui Batas Badai/Fahmy

7.     Menjelajahi Kekuatan Kata/Rizque

8.     Keluarga Cemara/Elysa

9.     Amir Seorang Anak Petani/Bima

10.  Terobosan Melalui Ketekunan/Ameer

11.  Teladan Tersembunyi/Rafi.

12.  Sibalik Rupa menemukan Cahaya  /Alerio

13.  Diri Sendiri /Nadila 

14.  Bunga yang Tak Pernah Layu/Aruna

15.  Seorang Anak dan Lukanya/Dhya

16.  Api Dalam Diri /Kahfi

17.  Langkah Pertama Menuju Impian /Fadhlan

18.  Menciptakan Keajiaban Dibalik Kegagalan/Farizy

19.  Kisah Maya Gadis Petani yang Mimpi Besar /Raissa

20.  Bayangan yang Terang Di Kota Kegelapan/Rafka

21.  Persahabatan Sejati/Aqhsa

22.  Kebaikan/Davin

 

Wanita Masih Banyak

Oleh: Alfatih


Kala itu, seseorang bernama Ajul sedang berjuang mendapatkan Wanita yang ia inginkan. Ajul yang orangnya sederhana, pintar, tidak enakan harus bersaing dengan laki-laki lain yang ingin mendapatkan perempuan yang mereka inginkan. Laki-laki itu bernama Dutta. Dutta adalah anak orang kaya dan berpresasi. Hal itulah yang membuat Ajul menjadi goyah dalam mendekati perempuan itu. Perempuan itu Bernama Meyu. Meyu adalah perempuan berparas cantik, memiliki mata yang indah, beserta suaru yang selembut sentuhan alam.

Mereka bertiga itu satu kelas, kelas 11 IPA. Suatu saat, ada acara sekolah yaitu cerdas cermat. Kelas 11 IPA memilih mereka bertiga untuk mengikui acara tersebut. Ajul dan Dutta adalah teman, mereka teman. Namun, Ajul tidak tahu bahwa Dutta suka dengan Meyu. Akhirnya mereka bertiga Latihan cerdas cermat. Ajul terkesan cemburu kepada Dutta. “Mengapa Ia lebih dekat dengan Meyu ya?” Ajul bertanya kepada diri sendiri. Dutta dan Meyu yang sedang asik belajar dan bercandapun melanjutkan apa yang sedang mereka lakukan.

  Selesai latihan, Ajul dan Dutta balik bersama. Diperjalanan balik, Ajul bertanya “Ta, lu deket sama meyu ya?” Ajul bertanya kepada Duta. “Iya Jul, deket. Gue suka sama dia Jul.” Jawab Dutta. Sontak Ajul pun kaget, Wanita yang ia inginkan ternyata dekat dengan temannya sendiri. “Oh… lu suka sama meyu. Ajakin pacarana lah ta, dari pada lu sendiri mulu”. Ejek Ajul yang menahan rasa sakitnya. “Iya Jul, paling abis cerdas cermat gua mau ngajakin dia pacaran.” Jawab Duta.

Ajul sudah di rumah. Terfikir apa yang sudah diucapkan oleh Dutta. Emosi yang ia keluarkan seakan membakar seisi rumah. Menaruh rasa pada manusia adalah seni sederhana untuk terluka. Ia terluka akan harapannya. Esoknya, hari cerdas cermat pun tiba. Pada babak pertama terlihat cukup meyakinkan dari kelas mereka. Sampai melaju ke babak final. Di babak final, pikiran Ajul yang semakin kacau karena melihat Dutta dan Meyu yang sangat dekat. Sudah sampai ke pertanyaan terakhir.  

Pertanyaan rebutan. Dutta yang menyuruh Ajul untuk fokus. “Siapa yang menyebabkan perang dunia Ke-1 ?” pertanyaan dari cerdas cermat. Bel dari tim kelas 11 IPA berbunyi, dibunyikan oleh Dutta. Dutta yang menatap Ajul dengan rasa percaya dirinya, seakan akan menyuruh ajul untuk menjawab pertanyaannya. “Hitler” Jawab Ajul. “Jawabannya adalah salah” Jawab Host Cerdas Cermat. “Pembunuhan Archduke Franz Ferdinand” Jawab dari Kelas 11 IPS. “Jawabannya adalah Benar” Host Cerdas Cermat. Kelas 11 IPA gugur dibabak final. Muka Ajul yang semakin kecewa karena tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dutta dan

Meyu yang kecewa kepada Ajul. “Duh Jul, Kenapa lu gak bisa jawab pertanyaan tadi sih?” Tanya Dutta dengan nada marah. Ajul tidak menjawab, perasaan Ia campur aduk.

Selepas pulang dari cerdas cermat, Meyu dan Dutta berjalan balik kearah rumah secara berbarengan. Ternyata secara diam-diam ajul mengikuti mereka dari belakang. Untuk menghilangkan rasanya Ajul, makanya Ajul ingin melihat mereka. “Sepertinya mereka sudah berpacaran ya?” tanya Ajul kepada dirinya sendiri. “Mungkin berakhir disini ya, mey?” Ajul berbicara dengan dirinya sendiri. Tidak disadari, Ajul sudah melewati 3 tahap kesedihan. Menyangkal, marah, dan menerima. Ia awalnya menyangkal Dutta dengan Meyu, terlihat dari bagaimana Ajul berbicara dengan Dutta. Marah, Ia marah dengan semesta yang seakan akan membuat ia dengan Meyu tidak bisa bersatu yang terakhir menerima, perlahan-lahan dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah bisa lagi dengan Meyu.

 

 

Pesan Di Balik Jendela

Oleh: Marsa Shalom Audeli Adzra

 

Di sebuah kota kecil yang indah, hidup seorang wanita bernama Maya. Dia tinggal di rumah tua yang memiliki jendela besar di depannya. Setiap hari, Maya duduk di depan jendela itu, memandangi dunia di luar, dan selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Suatu pagi, ketika Maya kembali duduk di depan jendela seperti biasa, ia melihat seorang pemuda berpakaian kusam berdiri di depannya. Dia tampak kebingungan, mencari arah ke suatu tempat.

Maya membuka jendela dan bertanya, “Apakah kamu butuh bantuan?”

Pemuda itu tersenyum dan menjawab, “Iya, saya tersesat. Saya mencari sebuah taman bunga yang katanya sangat indah.” Maya memberikan petunjuk yang jelas, dan pemuda itu pun pergi dengan senyuman yang berseri-seri.

Hari demi hari, Maya memberikan petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di depan jendelanya. Dia merasa bahagia bisa membantu mereka menemukan jalan. Namun, ia masih merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

 Suatu sore, Maya melihat seorang wanita tua berdiri di luar rumahnya. Wanita itu menatap Maya dengan mata penuh makna dan berkata, “Terima kasih atas bantuanmu. Kau adalah malaikat penjaga jalan bagi kami yang tersesat.” Maya tersenyum, lalu wanita tua itu melanjutkan, “Tapi tahukah kamu, sebenarnya yang tersesat bukan hanya mereka, tapi juga kamu sendiri. Kamu mencari kebahagiaan, tapi kamu tidak menyadari bahwa kebahagiaanmu ada di sini, di balik jendela ini.”

Maya terkejut mendengar kata-kata itu. Wanita itu pergi, dan Maya duduk di depan jendela, merenungkan kata-kata tersebut. Akhirnya, ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita memberikan dan berbagi dengan orang lain.

Maya memutuskan untuk mengubah hidupnya. Dia mulai menjadi relawan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menemukan kebahagiaan sejati dalam memberi dan berbagi.

Suatu hari, Maya mendapati bahwa rumahnya akan dijual untuk proyek pembangunan kota. Konflik muncul ketika Maya harus memilih antara mempertahankan rumah bersejarahnya atau melanjutkan perjalanan membantu orang lain di luar jendelanya.

Maya, dengan nada khawatir, bertanya kepada pejabat proyek, “Maaf, mengapa rumah saya harus dirobohkan? Ini rumah bersejarah dan tempat di mana saya menemukan makna hidup baru.”

 

Pejabat proyek menjelaskan, “Maaf, ini keputusan yang telah diambil pemerintah untuk pengembangan kota. Kami akan memberikan kompensasi, namun rumah ini harus dirobohkan.” Maya dengan keputusasaan berkata, “Tapi di sinilah saya menemukan kebahagiaan sejati saya. Bagaimana bisa saya membantu orang lain jika rumah ini hilang?”

Pejabat proyek menunjukkan kebijakan, “Kami memahami perasaan Anda, namun ini adalah langkah yang harus diambil demi kemajuan kota. Kami akan memberikan kompensasi yang adil dan membantu Anda menemukan tempat baru.”

Maya, dengan penuh emosi, menyimpulkan, “Saya tahu ini sulit, tapi apakah tidak ada cara lain? Ini bukan hanya rumah bagi saya, tapi juga tempat di mana saya menemukan arti hidup.”

Pejabat proyek, mencoba meredakan situasi, berkata, "Kami memahami perasaan Anda, tetapi keputusan ini sudah final. Kami akan bekerja sama untuk memastikan Anda mendapatkan kompensasi yang sesuai dan bantuan dalam mencari tempat baru."

Maya, meskipun terpukul, mencoba menjalin dialog, "Apakah tidak ada cara untuk menyelamatkan rumah ini? Mungkin ada opsi lain yang bisa dipertimbangkan?" Pejabat proyek, dengan tegas, menjelaskan, "Sayangnya, ini adalah kebijakan yang sudah diambil. Namun, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Anda dalam transisi ini."

 

Maya, dengan wajah penuh ketidaksetujuan, berkata, "Saya mungkin kehilangan rumah ini, tetapi saya tidak akan kehilangan makna hidup saya. Saya akan mencari cara untuk terus membantu orang lain, bahkan jika harus dari tempat baru."

Pejabat proyek mengangguk, "Kami menghargai sikap Anda, dan kami akan mendukung Anda sejauh mungkin dalam peralihan ini. Semoga Anda tetap menemukan kebahagiaan di tempat baru Anda."

Maya, sambil menatap jendela rumahnya yang akan dirobohkan, mengucapkan, "Terima kasih. Saya akan terus melihat dunia dari balik jendela, meskipun dari tempat yang berbeda."

Waktu berlalu, dan hari roboh pun semakin dekat. Meskipun Maya kehilangan rumah bersejarahnya, semangat dan tekadnya untuk membantu orang lain tidak pudar. Dia terus menjadi relawan, memberikan petunjuk kepada mereka yang tersesat di jalanan kota baru tempatnya tinggal.

Pada hari roboh, Maya berdiri di depan rumah yang akan menghilang itu. Seorang tetangga datang mendekat, "Maaf melihat rumahmu dirobohkan, Maya. Semoga kebahagiaanmu tetap bersama kita."

Maya tersenyum dan menjawab, "Terima kasih atas dukunganmu. Kebahagiaan sejati memang tidak terletak pada benda, tapi pada bagaimana kita memberi arti pada hidup kita dan orang lain."

 Dengan penuh semangat, Maya terus melangkah ke depan, mengejar makna hidupnya yang baru. Meski melalui perubahan dan kehilangan, dia tahu bahwa pesan di balik jendela tak hanya tentang tempat, melainkan tentang bagaimana kita membangun arti dan kebahagiaan dalam perjalanan hidup kita.

Setiap manusia memiliki kisah hidup masing-masing, sebab manusia dilahirkan dengan taqdir yang berbeda walaupun tercipta dari yang sama yaitu sang kholiq, namun dalam proses perjalanannya memiliki alur yang berbeda, manis dan pahit merupakan warna kehidupan yang selalu menemaninya.

Rangkaian kisah dalam buku ini yang menyajikan berbagai cerita yang membawa ke dunia fantasi dari berbagai pengalaman hidup, secara fiksi maupun nonfiksi. Setiap penulis menyusun setiap kata demi kata sehingga menjadi sebuah kalimat yang tersusun dengan berbagai ceritanya.

Buku ini hadir sebagai buku antologi dari hasil karya siswa kelas 9 SMP Plus Islamic Village, dengan antusiasnya mereka menyelesaikan tulisannya dalam kondisi dimanapun berada, dengan memiliki misi yang sama yaitu memberikan kebermanfaan akan cerita yang mereka untuk siapun yang berkenan untuk membacanya.

Silahkan bisa miliki bukunya dengan tebal 300 halaman, ukuran 13x19 cm, harga 100.000 bisa pesan ke penerbit di https://www.qrcbn.com/check/62-512-0299-390 Kirim pesan ke ADMIN Literasi di WhatsApp. https://wa.me/6281312477183 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar