RONA CORONA Pesona Ragam Rasa Kala Tak berdaya Karya Ir. Neni Utama Adinigsih, M.T.


 

Boredom always precedes a period of great creativity

 (Kebosanan selalu mengawali periode kreativitas yang hebat.)

Demikianlah quote inspiratif dari Robert Maynard, Pirsig (1928 - 2017), seorang penulis dan filsuf Amerika.  Kondisi itulah yang terjadi pada Senin, 2 Maret 2020, saat untuk pertama kalinya Corona Virus Disease – 2019 (COVID-19)  dinyatakan resmi mulai menjamah Indonesia. 

Virus Corona membuat kehidupan dunia berubah drastis dari aktif di luar rumah menjadi harus di dalam rumah.  Kegiatan di lembaga pendidikan, pusat perbelanjaan ditutup.  Dilarang  ada kegiatan makan/minum di tempat umum.  Begitu pula kegiatan di tempat ibadah dan aktivitas massal lainnya.  Suasana yang sungguh berbeda juga terjadi saat Ramadhan tiba.  Tak ada kemeriahan khas.  

Dalam kehidupan sosial, beragam kasus bullying pun terjadi, terutama ke pihak-pihak yang berinteraksi dengan penderita COVID, mulai dari tenaga kesehatan hingga petugas pemakaman jenazah.    “Virus ...! Virus ...!  Hush pergi sana ...!” seru beberapa ibu ke seorang perempuan muda sambil menyemprotkan tabung plastik berisi cairan desinfektan.  Begitu juga dengan petugas yang membantu memakamkan pasien COVID-19.  Bahkan yang tidak menangani pasien COVID-19 juga bisa mengalami hal sama.  Mereka mendapat cercaan, hinaan, tuduhan bahkan pengucilan justru karena berjuang merawat pasien COVID-19.  Bahkan aneka prasangka juga kerap dialami oleh penderita dari anggota keluarganya sendiri. 

Setelah kebosanan dan kejenuhan tinggal di rumah saja, bermunculan 1001 gaya masker kreatif, untuk menyikapi era new normal (adaptasi kebiasaan baru – AKB).  Juga berbagai tips trik agar ‘aman’ dari Corona.

Tak hanya pengalaman nyata, tulisan fiksi berbasis realita kian menambah semarak  ragam rasa kala tak berdaya yang dikemas dengan penuh pesona.  Penasaran? 

 

 

Komentar