PROFIL
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan bangga
mempersembahkan Buku Panduan Penyelenggaraan SENI ANGKLUNG SEBAGAI PEMBELAJARAN
MUATAN LOKAL BANDUNG KOTA ANGKLUNG, untuk Pengembangan Sekolah Dasar di
lingkungan Kota Bandung.
Pembina:
Pemerintah
Kota Bandung
Penanggungjawab:
Drs. H. Hikmat
Ginanjar, M.Si
Kepala Dinas
Pendidikan Kota Bandung
Pengarah:
1.
Tantan Syurya Santana, S.Sos., M.Si.
Sekretaris
Dinas Pendidikan Kota Bandung
2.
Drs. Bambang Ariyanto, M.Pd.
Kepala
Bidang Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Dasar
Pelaksana:
Jajang
Hernawan, S.Pd., M.M.Pd.
Kepala Seksi
Kurikulum Sekolah Dasar
Tim Penyusun:
Anggota:
1.
Nunung Laelasari, S.Pd
2.
Siti Hamidah Mahmudah Al-Masyhud, S.HI, S.Pd.
3.
Cecep Somantri, S.T
4.
Widiayanti Suminar, S.Pd. M.M.Pd.
5.
Ugan Suganda, S.Pd.
6.
Wiwi Widaryanti, S.Pd
7.
Arni Wahyuni, S.Pd., M.M.
8.
Nyimas Sari ,S.Pd
9.
Aan Handoyo, A.Md.
10. Eka
Febrina
ANGKLUNG
Sifat kolaboratif musik angklung,
bermain mempromosikan kerjasama dan saling menghormati di antara para pemain,
bersama dengan disiplin, tanggung jawab, konsentrasi, pengembangan imajinasi
dan memori, serta perasaan artistik dan musik.
Proses pewarisan angklung diturunkan
secara lisan dari generasi ke generasi dan meningkat di lembaga pendidikan.
Nama Angklung merupakan interpretasi
orang Sunda terhadap bunyi “Klung” yang dihasilkan (Onomatopoeia). Itu juga
berasal dari Angkleung-angkleungan, suatu bentuk/formasi orang berjalan.
SEJARAH
KEANGKLUNGAN
Dilihat dari fungsinya yang erat
kaitannya dengan upacara
Ada cerita lisan yang masih diyakini
“benar” oleh beberapa kelompok masyarakat adat, di antaranya cerita LUTUNG
KASARUNG dan Wawacan SULANJANA (berkaitan dengan siklus penanaman padi).
Cerita Lutung Kasarung merupakan
cerita orisinal yang berasal dari masyarakat Sunda “kuno” yang belum
terpengaruh oleh budaya Hindu. Cerita ini menceritakan tentang proses penanaman
padi di "HUMA" (sawah kering). Terkait dengan keberadaan angklung,
telah digunakan dalam siklus budidaya padi.
Angklung sudah digunakan sebelum agama
Hindu masuk (abad ke-4), angklung sudah digunakan sejak orang Sunda menjadikan
nasi sebagai makanan pokok.
Disisi lain bagi masyarakat Sunda yang masih memegang teguh terhadap
budaya tradisi karuhun (leluhur), mereka masih tetap menggunakan angklung
sebagai bagian upacara ritual, seperti :
1.
Angklung Baduy (Kanekes)
2.
Angklung Buncis
3.
Angklung Gubrag
4.
Angklung Bungko
5.
Angklung Badud
6.
Angklung Dogdog Lojor
7.
Angklung Mayang Sari
8.
Angklung Badeng
9.
Bangklung
10.
Angklung Landung


Komentar
Posting Komentar