30 Series Menuntaskan Ikhtiar

 

 30 Series Menuntaskan Ikhtiar

Karya : Zurnyta Aziz



Prakata

 

 

Alhamdulillah, bersyukur kehadirat Allah Swt atas karunia kesehatan lahir dan batin sehingga saya dapat merampung buku yang berjudul “30 Series Menuntaskan Ikhtiar. Shalawat salam teruntuk nabi Muhammad Shalallahu’ ‘alaihi Wassalam, manusia teladan sepanjang zaman. Allahummasalli ‘ala Muhammad wa ala ‘alihi Muhammad.

       Buku ini memuat tulisan demi tulisan yang saya tulis antara tahun 2020 sampai tahun 2021. Sebagai alasan mengisi waktu senggang di masa pandemi COVID-19. Saya menulis hampir setiap hari, tanpa disadari tulisan saya sudah 30 tulisan.

      Dalam buku ini tersaji curahan-curahan tulisan sederhana dari berbagai dilema. Berisikan kegundahan, kegalauan serta kebingungan saya terhadap dilema dunia pendidikan kita dan kehidupan ini. Melalui apa yang saya baca di media cetak, media sosial maupun saya lihat di media televisi. Tak terkecuali apa yang disaksikan langsung dalam  menjalankan aktifitas sehari-hari.

     Tidak ada naskah yang sempurna, dalam buku ini saya berkeyakinan masih banyak kekurangan, dan saya berharap sumbang saran untuk kebaikan buku dan saya pribadi kedepannya. Semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca yang budiman.

 

Mukomuko, Februari  2023

 1  PENTINGNYA MENULIS BAGI GURU

GURU adalah sebuah profesi. Profesi yang tak disanggupi oleh banyak orang.  Artinya, hanya orang-orang tertentu yang mau memilih profesi ini. Profesi yang mulia, karena di ‘tangan’nya tercipta insan-insan cendikia yang menjadikan bumi ini berwarna-warni. Apapun profesi, kedudukan dan siapa saja itu tak luput dari polesan tangan guru melalui ilmu pengetahuan yang ditularkan dari hari ke hari.  Setiap guru selalu memberikan nasehat dan wejangan kebaikan kepada murid-murid. Guru memberikan petuah-petuah ilmu pengetahuan sebagai bekal menjadi apa dan siapa nantinya mereka (anak didik).

Namun, sangat disayangkan, nasehat, wejangan, ilmu pengetahuan yang telah disampaikan dan telah pula mengantarkan ribuan muridnya menjadi ‘orang’ di negeri ini, belum terdokumentasikan melalui tulisan yang dibukukan. Maka tidaklah susah menuliskan apa yang guru lakukan selama pembelajaran dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun menjadi produk buku sehingga dapat dibaca oleh murid-murid atau sekedar memberi inspirasi kepada rekan guru lainnya di daerah yang berbeda-beda.

Yuk…..mulai menulis sobat guru…….

PENTINGNYA MENULIS BAGI GURU

MENULIS, sebuah kata sederhana bila diucapkan, namun sebagian kita kadang bingung memaknainya. Sebagai guru bukankah saban hari menulis adalah kegiatan rutin? Lalu kemana saja hasil tulisan kita itu ?

Jika kita pikir-pikir, sebagai guru sudah banyak yang kita tulis. Menulis soal ujian, mulai dari ujian harian, tengah semester, akhir semester dan akhir tahun.  Menulis strategi mengajar, misalnya strategi Problem Based Learning (PBL). Dengan menerapkan strategi belajar PBL otomatis kita membuat langkah-langkah sesuai dengan sintaknya. Menulis puisi, menulis agenda harian guru, dan lain sebagainya. Jadi, kita dapat simpulkan bahwa guru itu “jago nulis” Why not!

Katakanlah guru PNS ketika akan naik pangkat membutuhkan beberapa karya tulis berupa makalah, artikel, penelitian tindakan kelas, dan lain sebagainya. So, guru dan menulis seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Sekarang, masalahnya seberapa kuat minat guru melanjutkan menulis itu berbuah menjadi produk buku? Jika diterbitkan menjadi buku tentu saja membutuhkan keterampilan menulis yang baik dan mampu menata tulisan menjadi layak baca dan layak konsumsi oleh khalayak.

 

KENAPA MENULIS ITU PENTING BAGI GURU ????

Ada 5 alasan kenapa menulis itu penting bagi guru :

1.  Mempermudah pengembangan keprofesian guru

Guru sebagai profesi membutuhkan pengembangan berkelanjutan. Menjadi guru tidak stagnan di golongan tertentu saja. Maka salah satu pengembangan keprofesian guru sebagai prasyarat adalah menghasilkan karya tulis. Karya tulis yang diminta untuk pengembangan ini bahkan lebih dari satu hasil karya tulis.

Dengan keterampilan menulis yang selalu diasah oleh guru, maka akan memudahkan guru menghasilkan karya tuisannya. Tanpa perlu ‘menyontek’ bahkan plagiat karangan penulis lain. Melatih keterampilan menulis perlu guru asah sedini mungkin sehingga menjadi kebiasaan, menjadi budaya dan pada akhirnya menjadi karakter banyak membaca lalu menuliskan menjadi hasil karya tulis yang berguna untuk diri si guru maupun sebagai media berbagi ilmu kepada rekan guru lainnya.

2.  Media solusi masalah belajar

Sebagai guru, tentu banyak tantangan dan kendala yang dihadapi saat mengajar. Guru sering mencari solusi sebagai strategi pemecahan masalah belajar. Strategi pemecahan masalah belajar tersebut kemudian ditulis dalam bentuk laporan best practice atau penelitian tindakan kelas (PTK). Menuliskan masalah belajar secara tidak langsung guru menulis secara runtun dan menggunakan kaidah-kaidah menulis yang baik. Disamping itu, proses menulis ini tentu saja tidak asal menulis melainkan mengikuti aktifitas mengamati, menggunakan langkah-langkah serta refleksi dan evaluasi. Dengan demikian, guru telah berhasil memproduksi sebuah tulisan yang bermanfaat bagi guru lain yang ingin menjadikan hasil karya guru sebagai referensi solusi masalah belajar murid di berbagai daerah.

3.  Menajamkan wawasan guru

Guru, insan cendekia memiliki segudang ilmu yang tak akan habis-habisnya. Semakin diajarkan kepada murid semakin tumpah ruah ilmu tersebut dikepala guru. Aktifitas membaca dan menulis adalah serangkaian aktifitas yang saling berkelindan. Seorang penulis hebat pastilah orang yang banyak membaca. Banyak membaca akan menambah wawsan sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi tajam sesuai dengan keilmuannya.

4.  Investasi ilmu pengetahuan

Bagi guru, menulis merupakan sebuah refleksi diri seberapa mampu mewujudkan apa yang ada dipikiran menjadi sebuah tulisan. Karya tulisaan guru adalah sumbangan berharga terhadap dunia pendidikan. Inilah investasi terdahsyat yang guru bisa berikan pada negara. Karya yang dinikmati oleh generasi setalah si guru sang penulis sudah tidak ada di dunia ini. Tiadalah harta melainkan ilmu pengetahuan sebagai investasi keabadian bagi guru.

5.  Rekam jejak intelektual guru

Guru profesi terhormat. Karena tugas pokok guru tertuang jelas dalam UUD 1945 yaitu : mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebelum bicara tentang kesehatan, kesejahteraan, ternyata cerdas itu yang paling utama. Maka, guru berada di garda terdepan dalam proses pencerdasan itu. Salah satunya adalah dengan membaca. Membaca membuka cakrawala berpikir. Dengan terbukanya cakrawala itu maka guru dapat menuangkan dalam bentu rangkaian kata menjadi kalimat, menjadi paragraf demi paragraf sehingga berhalaman-halaman guru hasilkan dalam proses menulis. Lalu jadilah sebuah karya tulis dan menjadi buku tersebar senataro negeri, dinikmati oleh generasi muda akan datang. Buku menjadi karya amal guru yang tak putus mengalir terus menerus. Dengan menulis, si ‘guru’ sebagai penulis sudah tiada namun tetap dikenang melalui rekam jejak buku yang dikaryakan.

Jangan tunggu waktu untuk paham menulis, tuliskan apa yang kita pahami. Lakukan baca…baca…baca…lalu tulis!

 


Komentar