MEMOAR TENTANG IBU, Karya Madrasah Aliyah Ma'arif NU Lasepang, Sitti Zuhraeni, dkk.


 

MEMOAR TENTANG IBU

QRCBN: 62-512-3076-907

 

PENULIS :

Sitti Zuhraeni, dkk.

EDITOR:

Sitti Zuhraeni, Rika Wahyuni

Ainun Salsabila, Miftahul Husna

Ifah Nurfadila, Nurbaeti

 

KURATOR :

Siti Zuhraeni

Layout: Tim Tata Akbar

COVER : A. Fajrul Islam

PENERBIT : TATA AKBAR

REDAKSI : Soreang Kabupaten Bandung  Jawa Barat

EMAIL : penerbittataakbar@gmail.com

Website: www.penerbittataakbar.com

TEBAL BUKU  230 halaman

Kertas  Bookpaper, Ukuran 14.8 cm X 21 cm.

Cetakan  1,  Desember 2022

 

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG


PERSEMBAHAN

Karya ini kami persembahkan kepada: 

Keluarga Besar Madrasah Aliyah Ma’arif NU Lasepang
Seluruh keluarga para penulis hebat MA. Ma’arif NU Lasepang
Keluarga Besar Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Bantaeng
Keluarga Besar PC. Nahdlatul Ulama Kabupaten Bantaeng
Keluarga Besar Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng
Para peserta didik MA. Ma’arif NU Lasepang
Guru-Guru Penggerak Literasi
Para pembaca yang budiman.
 

 KATA PENGANTAR

PENERBIT

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah Ta’ala dengan segala Rahman dan Rahiim-Nya. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi besar Muhammad Shalallahu’ “alaihi Wassallam.

Sebuah karya yang sangat luar biasa  dari Keluarga Besar Madrasah Aliyah Ma’arif NU Lasepang dengan sangat  hebatnya berkarya yang berasal dari isi hati yang paling dalam membuat Memoar  Tentang Ibu. Banyak catatan di dalamnya  kisah Ibu yang begitu luarbiasa dikemukakan dalam buku ini.

Di Hari ibu Memoat Tentang  Ibu, yang dipersembahkan bagi ibu tercinta semoga menjadi catatan penting, dan sangat lah besar jasa Ibu yang telah sabar merawat dan mendidik kita hingga kini. Tak terbalaskan, namun berharap berbalas kebaikan  di suatu saat nanti dari Surga-Nya.Aamiin Yaa Robbal’aalamiin. Selamat Hari Ibu.

 Bandung,  Desember 2022

Hati Nurahayu

 PRAKATA

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi’ Rabbil ‘aalamiin. Segala puji bagi Allah Subhaanahuu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada seluruh hamba-Nya. Berkat pertolongan dan kasih sayang-Nya sehingga buku antologi kedua karya guru-guru dan siswa Madrasah Aliyah Maarif NU Lasepang bisa dirampungkan. Semoga karya ini memberi manfaat kepada para pembaca. Aamiin.

Sholawat dan salam tercurah kepada baginda Rasulullah Muhammad Shollallaahu ‘Alaihi Wasallam. Nabi terakhir yang diutus ke dunia ini untuk memberi teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Rasul mulia yang mengajarkan kebenaran serta akhlak terpuji nan mulia kepada seluruh umat manusia.

Buku ini berisi kisah perjuangan dan jasa para ibu dari guru-guru Madrasah Aliyah Maarif NU Lasepang yang sangat menginspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Uniknya, ada salah seorang siswa madrasah yang juga mengirim tulisan tentang ibunya. Seluruh isi buku ini berdasarkan kisah nyata yang dirasakan dan dialami sendiri oleh para penulis bersama para ibunya masing-masing.

 

  Ada berbagai rasa dan ungkapan cinta seorang anak kepada ibunya tertuang apik dalam buku ini. Ada penulis yang menceritakan kisah hidup ibunya yang saat ini masih berada di sisinya dan ada juga yang hanya mengenang jasa ibunya yang telah tiada. Ada penulis yang membicarakan kisah ibunya sejak masa kelahirannya, dan ada juga penulis yang menceritakan tentang detik-detik wafatnya. Ada penulis yang mendedahkan ungkapan terima kasih kepada ibunya, ada juga yang fokus pada kisah heroik ibunya di masa-masa sulit kehidupan keluarga.

          Kami menyadari bahwa karya antologi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Tentunya kami terbuka terhadap kritik dan saran dari pembaca. Kami sangat berharap agar buku ini menjadi salah satu giat literasi menulis di madrasah dan menjadi sumber inspirasi bagi pembaca. Selain itu, karya antologi ini diharapkan dapat memberi memberi banyak manfaat dan kontribusi positif dalam membangun literasi bangsa Indonesia. Aamiin

                                                   Bantaeng, 20 November 2022

Sitti Zuhraeni, dkk.

 


KATA PENGANTAR

Suharti, S. Pd., M.M.

Pengawas Pendidikan Madrasah Kementerian Agama

Kabupaten Bantaeng

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Sholawat dan salam kami peruntukkan kepada Nabi Muhammad SAW, nabi yang diutus ke dunia ini sebagai uswatun hasanah bagi seluruh umatnya.

Dunia pendidikan pasca pandemi, mengalami perkembangan yang semakin pesat. Hal ini ditandai dengan bergulirnya berbagai aplikasi pembelajaran terbaru yang digunakan oleh para pendidik di seluruh dunia. Selain itu, berdasarkan program pemerintah di bidang pendidikan, yakni kurikulum merdeka, seluruh penyelenggara pendidikan mulai berbenah. Segala aspek yang diperlukan untuk mengimplementasikan kurikum merdeka terus dibenahi pada satuan pendidikannya masing-masing.

Salah satu bagian terpenting dalam bingkai merdeka belajar adalah peningkatan kemampuan literasi pendidik dan peserta didik. Ada beberapa jenis kemampuan literasi yang perlu ditingkatkan dalam lingkup satuan pendidikan. Diantaranya adalah kemampuan literasi membaca dan menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan (menulis).

Madrasah Aliyah Maarif NU Lasepang saat ini sedang menggiatkan peningkatan kemampuan menulis warga madrasah. Menulis karya antologi oleh para pendidik dan peserta didik merupakan sebuah program tahunan madrasah tersebut. Kali ini saya diminta untuk memberi kata pengantar dalam buku keduanya. Sebelumnya Madrasah Aliyah Maarif NU Lasepang telah berhasil menerbitkan buku perdana yang berjudul Menyulam Asa di Era Tak Biasa.

Selaku pengawas pendidikan madrasah tingkat menengah Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng, saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tenaga pendidik dan peserta didik di Madrasah Aliyah Ma’arif NU Lasepang atas karya tulis yang telah ditorehkan. Ucapan terima kasih dan penghargaan terkhusus kami sampaikan kepada pelopor penulisan buku sekaligus sebagai kurator, serta para editor yang telah mewakafkan diri demi terbitnya buku kedua ini.

         Dengan penulisan buku antologi yang berjudul Memoar tentang Ibu, diharapkan agar perjuangan dan jasa para ibu tetap abadi dalam sebuah karya hingga akhir masa. Saya berharap agar program menulis buku ini juga bisa menjadi percontohan bagi madrasah lain untuk turut bergerak                   di bidang literasi menuju madrasah hebat bermartabat.

                                            Bantaeng, 25 November 2022

 

KATA SAMBUTAN

H. Muhammad Ahmad Jailani, S. Ag., MA.

Kepala Kantor Kementerian Agama

Kabupaten Bantaeng

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi’ Rabbil ‘aalamiin. Syukur yang tak terhingga terus menerus diucapkan sebagai salah satu bukti penghambaan manusia kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Sholawat dan salam terkirim kepada Baginda Nabi Muhammad Shollallaahu Alaihi Wasallam, nabi yang diutus ke dunia ini sebagai teladan terbaik dalam membentuk akhlakul karimah.

Dunia pendidikan sebagai salah satu bidang vital dalam kehidupan manusia mengalami banyak perubahan pasca pandemi COVID-19. Berbagai upaya telah dilakukan agar seluruh anak usia sekolah tetap mendapatkan layanan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan memberikan pembelajaran berbasis kurikulum merdeka dan disesuaikan dengan keunikan masing-masing peserta didik yang dibina.

Sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng, saya sangat mengapresiasi dan memberi penghargaan atas upaya guru-guru Madrasah Aliyah Ma’arif NU Lasepang bersama siswanya. Menurut saya, bukanlah hal yang mudah untuk menerbitkan sebuah karya bersama berbentuk buku antologi yang berjudul Memoar tentang Ibu. Saya yakin semua itu dapat diwujudkan berkat adanya tekad yang kuat dan semangat kebersamaan yang terus dipupuk dari waktu ke waktu.

Peran dan jasa seorang ibu tentu sangat mempengaruhi kehidupan anak-anaknya, sejak lahir hingga dewasa dan berkiprah di dunia pendidikan. Kisah para ibu yang terdapat dalam buku ini sungguh sangat beragam dan menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. Karya antologi ini merupakan salah satu bukti kecintaan mereka pada sosok mulia yang bernama ibu.

Dengan terbitnya buku antologi ini diharapkan menjadi bahan masukan dan rujukan bagi madrasah lain, khususnya dalam lingkup Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng untuk turut menorehkan karya dan prestasi. Saya mengucapkan selamat kepada seluruh guru dan siswa yang menjadi penulis buku antologi kedua berjudul Memoar tentang Ibu. Teruslah berkarya dalam meningkatkan kemampuan literasi di madrasah! Selamat Hari Ibu bagi para ibu di seluruh dunia!

 DAFTAR ISI

 

ISI DAN NAMA PENULIS

Halaman

PEREMPUAN MULIA ITU UMMIKU

Oleh: Siti Zuhraeni

14

IBUKU, WANITA HEBAT MOTIVATORKU

Oleh: Rohani

 

30

UMMI, BIDADARI TAK BERSAYAP

Oleh: Nurjannah

 

41

MAMA ADALAH KEKUATANKU

Oleh: Maryam

 

47

CIAKU CINTA MATIKU

Oleh: Sakir

56

IBUKU MATAHARIKU

Oleh: Fatmawati

 

66

AMMAKKU SEGALANYA BAGIKU

Oleh: Hanasiah

 

78

MAMA’ ADALAH INSPIRASIKU

Oleh: Hijriah

 

88

MAMA’

Oleh: Hijriah

 

97

UMMIKU SAYANG

Oleh: Nujmaeni

99

 

ISI dan Penulis

Halaman

MALAIKAT TAK BERSAYAP

Oleh: Haerani

 

114

Ibu

Oleh: Ifah Nurfadila

 

121

IBU NAPAS HIDUPKU

Oleh: Sulaiman

 

133

AMMAKKU

Oleh: St. Rasyidah

 

137

MY MOTHER IS MY HERO

Oleh: Ihwani

145

UMMIKU MALAIKAT NYATA DARI TUHAN

Oleh: Miftahul Husna

 

149

MAMA TATI, IBUKU PAHLAWANKU

Oleh: Fajar Nur

 

161

SA USAMMIIKI KULLI SYAI’

Oleh: Ainun Salsabila

 

173

CERMINKU RETAK, AKU TETAP KUAT

Oleh: Rika Wahyuni

 

179


ISI dan Penulis

Halaman

AMMAKKU KERAMAT DUNIA AKHIRATKU

Oleh: Anwar

 

191

 

MUTIARAKU YANG HILANG

Oleh: Syahruni Galib

 

201

PERJUANGAN ORANG TUAKU

Oleh: Nur Hikmah ( siswi kelas XII IPS 1)

 

216

 


PEREMPUAN MULIA ITU UMMIKU

Oleh: Sitti Zuhraeni

 Tanggal 05 Juni 1943 adalah hari bersejarah bagi Karaeng Kindang dan Hani. Pada saat itu mereka dikaruniai seorang anak yang telah lama didamba. Bertahun-tahun mereka mengidamkan lahirnya buah hati, namun belum juga terkabul.

Karaeng Kindang merupakan anak sulung dari Karaeng Samoi, salah satu polisi pamong praja di Bantaeng. Dia adalah putra asli Bantaeng. Setelah beberapa tahun bertugas, dia mutasi ke Jakarta. Dia bertolak menuju tempat tugasnya tanpa mengikutsertakan istri dan anaknya. Gajinya setiap bulan dikirim ke Bantaeng. Sebagian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian besarnya dibelikan tanah, sawah dan hewan ternak.

 Karaeng Kindang hanya memiliki seorang adik perempuan bernama Karaeng Hamimang. Semua harta benda etta (panggilan untuk bapak) dari Karaeng Kindang berada dalam kendalinya. Setelah mencapai purnabakti, Karaeng Samoi kembali ke Bantaeng. Dia menghabiskan masa pensiun dengan sibuk bertani dan mengurus ternaknya.

Adapun Hani binti Lulu adalah seorang gadis primadona di kampung Lumpangang. Kecantikannya tersohor sampai ke berbagai kampung di Bantaeng. Dari sekian banyak pemuda yang melirik, Karaeng Kindanglah yang berhasil mempersunting dirinya. Sayangnya, sudah beberapa tahun usia pernikahan, mereka tak kunjung dikaruniai momongan. Keluarga besar Karaeng Kindang sungguh merasa was-was akan hal tersebut.

Sebagai seorang bangsawan, Karaeng Kindang merasa ada sesuatu yang kurang dari perkawinannya dengan Hani. Hingga kemudian Karaeng Kindang menikahi seorang perempuan yang berasal dari kampung Biangkeke bernama Sannuri.  Pada pernikahan kedua ini, Karaeng Kindang dianugerahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Karaeng Baso’.

Alhamdulillah, dua tahun setelah kelahiran Karaeng Baso’, Hani juga melahirkan seorang putri cantik. Betapa senang hati mereka, terutama Hani. Karaeng Kindang lalu menyematkan nama yang indah untuk putrinya, Sitti Rohani Karaeng Baji’.

Kelahiran Karaeng Baji’ merupakan anugerah terbesar bagi kedua orang tuanya. Sampai ajal menjemput emma’ (panggilan untuk ibu), tak satupun saudara kandung yang dimiliki oleh Karaeng Baji’. Beruntung dia mempunya lima orang saudara seayah. Satu orang berusia lebih tua darinya dan empat lainnya lebih muda. Adik-adik Karaeng Baji’ bernama Karaeng Bau’, Karaeng Rahimi, Karaeng Haruna, dan Karaeng Saenab. Sayangnya, Karaeng Saenab tidak berumur panjang. Di usia 12 tahun, dia menghembuskan napas terakhir di dunia ini.

Sepanjang masa kanak-kanak hingga remaja, Karaeng Baji’ menyibukkan diri dengan belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sedangkan saudaranya yang lain lebih memilih menggembala sapi dan kerbau serta bermain di sawah. Terkadang mereka meminta Karaeng Baji’ untuk turut bergabung. Akan tetapi dia tidak bersedia. Bahkan ettanya sampai naik pitam karena tidak berhasil membujuknya.

Selama bersekolah, Karaeng Baji’ tidak pernah diantar jemput oleh ettanya seperti anak-anak zaman sekarang. Dia hanya mengayuh sepeda dan berangkat ke sekolah bersama temannya setiap hari. Jarak antara rumah di Lumpangang dengan sekolah di Lasepang sekira 2 kilometer. Namun karena banyak siswa yang juga bersepeda maupun yang berjalan kaki, jarak sejauh itu tidak begitu melelahkan baginya.

Di usia 19 tahun, Karaeng Baji’ dipinang oleh seorang pemuda dari Lasepang yang bernama ustadz Abdul Djabbar. Beliau merupakan salah satu tenaga pengajar di sekolah Karaeng Baji’.

Pada tahun pertama pernikahan, tepatnya di bulan Desember 1962, mereka dianugerahi seorang anak perempuan. Dia diberi nama Sitti Juwairiyah. Nama tersebut diambil dari nama salah satu istri baginda Rasulullah Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam. Namun, dia bertahan hidup hanya sampai batas waktu tujuh hari saja. Sungguh sukacita pasangan ini serta merta berubah menjadi sebuah duka mendalam.

Dua bulan berikutnya, Karaeng Baji’ kembali bergembira. Dia mengandung untuk kedua kalinya. Pada bulan ketujuh usia kehamilannya, tepatnya di bulan Oktober 1963, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Karaeng Baji’ melahirkan sebelum masa kandungan berusia 36 pekan. Anak kedua yang berjenis kelamin laki-laki itu lahir prematur. Dia tidak sempat menghirup udara di luar rahim umminya karena ternyata dia meninggal di dalam kandungan beberapa saat sebelum dilahirkan.

Untuk kedua kalinya, keluarga besar Karaeng Baji’ dan ustadz Abdul Djabbar dirundung nestapa. Mereka pasrah dan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala pengaturan yang telah ditetapkan-Nya. Penyerahan diri secara total yang dilakukan oleh pasangan suami istri ini akhirnya berbuah manis.

Pada tanggal 21 Desember 1964, Karaeng Baji’ melahirkan anaknya yang ketiga. Dia diberi nama Sitti Nur’aeni. Dia merupakan anak pertama yang dilahirkan di kampung Lasepang. Kedua kakaknya dilahirkan di kampung Lumpangang.

Kelahiran Sitti Nur’aeni menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga besar Karaeng Baji’ dan ustadz Abdul Djabbar. Pada tahun yang sama, kedua orang tuanya dinyatakan lulus Ujian Guru Agama (UGA) dan layak menjadi Pegawai Negeri Sipil atau PNS di lingkup Departemen Agama (sekarang bernama Kementerian Agama) Kabupaten Bantaeng.

Pada tahun 1966, Karaeng Baji’ kembali dikarunia oleh Allah dengan kehamilan yang keempat. Tepatnya pada tanggal 25 Maret 1967, seorang bayi laki-laki hadir di tengah keluarga mereka. Dia diberi nama Muhammad Anwar Tabrani. Parasnya sangat rupawan dan menggemaskan orang-orang di sekitarnya.

Ketika Tabrani berumur dua tahun, ustadz Abdul Djabbar mendapat tugas dari Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bantaeng untuk menghadiri Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Propinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut diselenggarakan di kabupaten Wajo. Pada saat itu Karaeng Baji’ sedang mengandung anaknya yang kelima.

Ustadz Abdul Djabbar akhirnya tidak bisa mendampingi istrinya selama proses persalinan. Di hari kedua kegiatan Konferwil NU, pada tanggal 10 Oktober 1969, seorang putri cantik lahir ke dunia. Kulitnya putih bersih dengan mata yang sipit membuat semua orang senang bermain dengannya. Dia diberi nama Rusydaeni.

Kemudian pada tahun 1971, Karaeng Baji’ menghadiahkan seorang adik perempuan untuk Rusydaeni. Wajahnya mirip sekali dengan emma’nya, Hani. Dia sungguh cantik jelita. Dia memiliki kulit yang lebih cerah dari Rusydaeni, hidungnya mancung, alisnya hitam dan tipis bak iringan semut hitam. Sebuah karya ilahi yang begitu sempurna. Busyraeni adalah nama yang disematkan oleh kedua orang tuanya.

 Dengan kecantikannya itu, Busyraeni diprediksi akan menjadi seorang primadona ketika dewasa nanti. Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Pada usia 5 bulan, Busyraeni didera sakit yang mengantarnya menuju kematian. Dia meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam bagi keluarga besarnya. 

Seiring pergantian tahun, begitu banyak karunia silih berganti diberikan Allah kepada keluarga Karaeng Baji’. Atas izin-Nya, dalam kurun waktu lima tahun dia melahirkan tiga orang anak laki-laki secara berturut-turut. Berawal di tanggal 01 April 1973, lahirlah anak yang ketujuh yaitu Muhammad Ahmad Jailani. Berikutnya tanggal 06 September 1975, anak kedelapan yang diberi nama Muhammad Arif Hamdani dilahirkan. Kemudian pada tanggal 03 Agustus 1977, Karaeng Baji’ melahirkan anak kesembilan yang bernama Muhammad Aqil Ramdani.

Begitu rapi rencana yang telah ditetapkan oleh Allah terhadap hamba-Nya. Setelah melahirkan tiga putra secara berurutan, selanjutnya Karaeng Baji’ diberi anugerah dengan lahirnya tiga orang putri dalam jangka waktu yang sama. Anak kesepuluh dilahirkan pada tanggal 04 April 1980. Dia diberi nama Nujmaeni. Selanjutnya anak kesebelas yang bernama Sitti Zuhraeni dilahirkan pada tanggal 15 Mei 1982. Terakhir, anak kedua belas sekaligus sebagai anak bungsu Karaeng Baji’ dan ustadz Abdul Djabbar lahir ke dunia pada tanggal 22 September 1984. Dia diberi nama Sitti Husnaeni.

Kalau dihitung-hitung, Karaeng Baji’ telah melahirkan sebanyak dua belas kali dalam jangka waktu 22 tahun lamanya. Dari kelahiran Sitti Juwairiyah hingga Sitti Husnaeni, tepatnya sejak tahun 1962 sampai tahun 1984. Maa syaa Allah, laa haula wa laa quwwata illaa billah!

Meskipun Karaeng Baji’ berkali-kali hamil dan melahirkan, tugas utamanya sebagai seorang istri sekaligus ibu tidak pernah terabaikan. Dia tetap rutin menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam bagi anggota keluarga yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah. Dia tetap melayani serta mengurus pakaian suaminya. Dia juga masih terus aktif memantau progres pendidikan anak-anaknya di sekolah.

Tugas domestik di rumah sungguh sangat menyita waktu bagi seorang ibu rumah tangga. Apalagi bagi Karaeng Baji’ yang juga berkarir di luar rumah. Beruntung saat itu dia ditugaskan di madrasah Ibtidaiyah (MI). Jam kerja di MI dimulai pada pukul 14.00 WITA sehingga memudahkan para guru untuk mengurusi keluarganya terlebih dahulu.

Pada jam tersebut, semua anaknya yang masih bersekolah dari SD sampai tingkat Aliyah juga sudah pulang ke rumah. Begitu pula dengan suaminya, ustadz Abdul Djabbar. Setelah mereka makan siang, barulah Karaeng Baji’ bersiap menuju ke tempat tugas.

Selain itu, dua anak perempuannya yang mulai beranjak dewasa, Nur’aeni dan Rusydaeni, juga sudah bisa membantunya. Setiap hari, mereka berdua membagi tugas membersihkan rumah, memasak, dan mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Begitu pula tugas berbelanja kebutuhan dapur diatur oleh keduanya.

Setiap tahun pelajaran baru, Karaeng Baji’ membeli bermeter-meter kain untuk kebutuhan pakaian sekolah anak-anaknya. Kain tersebut dijahit oleh Nur’aeni sesuai ukuran adik-adiknya. Sedangkan Rusydaeni bertugas menyisir dan mengikat rambut adik-adik perempuannya. Dia juga yang mengatur jadwal menyapu dan mencuci piring bagi adik-adiknya.

Adapun tugasnya sebagai seorang tenaga pendidik tidak pernah dilalaikan sedikitpun. Karaeng Baji’ merupakan salah satu guru dengan perangkat mengajar yang lengkap. Bahkan, dia mendapat pujian dari penilik (sekarang pengawas pendidikan) madrasah dari tingkat propinsi Sulawesi Selatan yang telah melakukan supervisi administrasi guru. Dari segi penguasaan materi ajar dan pengelolaan kelas, dia juga patut diacungi jempol. Banyak rekan kerjanya yang sering bertanya dan mencontohi kelengkapan administrasi Karaeng Baji’.

Karirnya di bidang pendidikan mengalami banyak peningkatan. Ketika pertama kali menerima tugas negara, dia ditempatkan di SDN 40 Lumpangang sebagai guru Pendidikan Agama Islam. Setelah itu, dia mutasi ke MI Pangi. Saat itu, anaknya yang kesepuluh (Nujmaeni) juga ikut bersekolah sore di sana. Beberapa tahun kemudian, dia dipindahtugaskan ke MI DDI Mattoanging.

Selama bertugas di MI DDI Mattoanging, ketiga putrinya yang terakhir selalu membersamai. Mereka juga ikut sekolah di MI sebagai pendukung materi pelajaran di SD. Jadi, mereka belajar pagi sampai siang di SD Inpres Lasepang, lalu siang sampai sore mereka belajar agama di MI.

Setelah belasan tahun menjalani tugas di MI, Karaeng Baji’ dinaikkan ke tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dia ditugaskan di MTs Maarif NU Lasepang. Selang beberapa tahun kemudian dia dimutasi ke tingkat Madrasah Aliyah (MA). Dia mencapai masa purnabakti di MA Maarif NU Lasepang Kabupaten Bantaeng.

Karaeng Baji’ bersama suami memang sudah berkomitmen untuk menyekolahkan dan mendidik semua anaknya dalam bingkai ajaran agama Islam. Tanpa terkecuali. Mulai dari Nur’aeni sampai Husnaeni, semuanya belajar di sekolah umum pada waktu pagi, sorenya belajar di MI, lalu malamnya mengaji di masjid.

Alhamdulillah, sembilan anak yang masih hidup semuanya paham agama dan fasih dalam membaca Al-Qur’an. Sayangnya, pada tanggal 01 April 2009, anaknya yang bernama Muhammad Arif Hamdani meninggal dunia  di usia 34 tahun. Sampai sekarang, anaknya tersisa delapan orang.

Meskipun kehidupan mereka sangat sederhana, akan tetapi tak pernah sekalipun keluarga ini berkeluh kesah. Terutama dalam hal ketersediaan makanan di rumah. Karaeng Baji’ sungguh telaten mengurusi kebutuhan pangan dan sandang keluarganya. Dia selalu memastikan kalau suami dan anak-anaknya berangkat ke kantor ataupun ke sekolah dalam keadaan kenyang. Dengan demikian, mereka tidak lagi jajan sembarangan selama di luar rumah.

Sepulang dari sekolah, makan siang yang setiap hari berganti menu sudah menanti di meja makan. Anak-anak harus makan siang sebelum berangkat ke MI bagi yang masih usia SD. Sedangkan yang sudah di jenjang yang lebih tinggi, makan siangnya disesuaikan dengan jam pulang sekolah. Makan malam harus dihadiri oleh seluruh anggota keluarga. Jadwal makan malam yakni setelah sholat Isya. Waktu antara sholat Magrib dan sholat Isya mereka gunakan untuk membaca kitab suci Al-Qur’an ataupun mengikuti pengajian di masjid.

Hal yang paling luar biasa terjadi pada saat bulan puasa tiba. Kesibukan Karaeng Baji’ mengurus keluarga dan mengajar di sekolah semakin berlipat ganda. Begitu banyak aktivitas yang dilakoninya bersama suami dan anak-anaknya. Tentu semua itu sudah diatur sedemikian rupa agar tidak ada waktu yang terlewatkan begitu saja. Jika selesai melaksanakan sholat Asar, dia sudah berjibaku dengan bahan-bahan makanan yang akan diolah menjadi menu buka puasa sekeluarga. Bukan hanya itu, dia juga mesti menyiapkan makanan untuk menu makan malam mereka.

Kebiasaan yang ada di keluarga Karaeng Baji’ dan ustadz Abdul Djabbar yaitu berbuka puasa dengan penganan yang manis dan berkuah. Setelah itu mereka bersiap untuk melaksanakan sholat Magrib berjamaah di masjid. Setiba di rumah, mereka makan malam bersama. Setelah itu, mereka lalu bersiap-siap menuju ke masjid lagi. Tujuannya untuk melaksanakan sholat Isya, mendengarkan ceramah agama, sholat Tarawih, dan sholat Witir berjamaah. Biasanya mereka sampai di rumah sekitar pukul sebelas malam.

 Persiapan untuk makan sahur dikerjakan setelah rentetan sholat malam selesai. Karaeng Baji’ bersama anak perempuannya kembali berkutat dengan alat masak di dapur. Sekali waktu, suami maupun anak laki-lakinya turut bergabung. Mereka berbincang santai tentang keseharian dan aktivitas pada hari itu. Biasanya semua pekerjaan di dapur kelar pada pukul 12 malam.

Klimaks dari kesibukan Karaeng Baji’ berada di pekan terakhir bulan Ramadhan. Dia selalu berusaha menyenangkan hati anak-anaknya dengan membeli pakaian baru untuk Hari Raya. Tidak pernah sekalipun dia mengajak semua anaknya untuk belanja di pasar. Akan tetapi, dia mencatat ukuran mereka satu demi satu. Mulai dari ukuran sepatu, ukuran baju, rok ataupun celana, serta ukuran peci bagi anak laki-lakinya. Catatan itulah yang dibawa ke pasar. Tentu dia mengadakan perjanjian dengan si penjual barang. Kalau ternyata ada yang tidak cocok dengan anaknya, maka barang tersebut boleh ditukar dengan ukuran yang sesuai.

Dalam hubungannya dengan tetangga dan sanak keluarga, Karaeng Baji’ dikenal dengan kebaikan hati serta kedermawanannya. Dia tidak pernah cekcok ataupun bertengkar dengan tetangga. Walaupun pernah sekali waktu ada tetangga yang berusaha mencari gara-gara, Karaeng Baji’ tidak meladeninya. Dia lebih memilih bersabar dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT semata.

 Ada sebuah kebiasaan unik dari keluarga Karaeng Baji’. Setiap bulan, dia selalu membeli satu kardus gula pasir. Bukan hanya untuk stok kebutuhan di rumah, gula pasir itu juga biasa dijadikan oleh-oleh bagi keluarga dari luar kampung yang datang berkunjung ke rumah. Kalau gula pasir sudah habis, biasanya mereka diberi uang sebagai ongkos pulang.

Selain itu, Karaeng Baji’ selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk membalas kejahatan orang lain dengan sebuah kebaikan. Apalagi kepada orang yang telah berbuat baik pada mereka, mesti dibalas dengan kebaikan pula. Jika ada keluarga atau teman yang punya hajatan, biasanya dia membawakan bahan makanan seperti gula pasir, minyak goreng, gula merah, ataupun sayuran kepada mereka.

Sungguh kemuliaan Karaeng Baji’ tidak selesai aku ceritakan secara keseluruhan dalam tulisan ini. Sebagai salah satu putrinya, aku sadar belum bisa mengikuti semua kebiasaan-kebiasaan baiknya itu. Meskipun begitu, secara bertahap aku mencoba meniti jalan kebaikan yang telah dijalani oleh ummiku.

Sampai pada hari Jum’at tanggal 18 September 2020, kebiasaan baik ummiku telah mencapai garis finish. Dia menutup mata untuk selamanya di kampung Lasepang di usia 77 tahun. Sama persis usia ettaku ketika pulang ke alam baka pada tanggal 20 April 2014 silam.

 Aku tidak sempat bersama ummiku di saat malaikat maut datang menjemput. Dia pergi disaksikan oleh kakakku yang ketiga, kelima, ketujuh serta adikku. Aku menerima kabar dari kakakku, Nujmaeni. Akan tetapi dia hanya mengatakan kalua ummi sedang tidak enak badan.

Setiba di Lasepang, aku melihat sebuah tenda yang terpasang dan bendera putih berkibar di depan rumah. Dadaku tiba-tiba menjadi sesak, air mataku membanjir. Aku tak kuasa menahan diri. Kuterobos kerumunan orang yang datang ke rumah untuk memastikan kalau kondisi ummiku baik-baik saja.

Aku pikir ummiku hanya pingsan saja seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Aku berharap bahwa sebentar dia akan tersadar kembali dan berbincang dengan kami lagi. Ternyata tidak. Hari itu adalah hari terakhirnya di dunia ini. Belum banyak hal yang kuberikan kepadanya. Aku merasa belum sepenuhnya berbakti.

Sungguh kami sangat kehilangan sosok panutan dalam segala hal. Dia perempuan mulia yang selalu ada dalam hatiku. Dia adalah jalan kami menuju keridaan Allah. Yaa Tuhan! Tak ada lagi yang mengusap-usap kepalaku di saat aku gundah. Tak ada lagi yang menguatkan ketika aku down. Tak ada lagi yang selalu memberiku support dalam menjalani tugas sebagai istri, ibu, sekaligus sebagai guru di madrasah. Sampai aku menulis kisah ini, rasa kehilangan dan duka itu masih saja menusuk dalam kalbu.

 Dalam setiap doa aku meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga kehidupan ummi dan ettaku di alam sana lebih baik dari kehidupannya di dunia. Semoga mereka berdua berbahagia. Semoga aku bisa memiliki kebaikan hati, kesabaran, dan kedermawanan seperti ummiku. Semoga suatu saat nanti aku bisa berkumpul kembali bersama mereka berdua dalam kasih sayang dan rahmat-Nya. Aamiin yaa Allah, yaa mujiibassaailiin.

  

BIONARASI PENULIS

Sitti Zuhraeni. Sebuah nama yang disematkan orang tuanya, KH. Abdul Djabbar bin Patellongi dan Hj. Sitti Rohani binti Karaeng Kindang. Penulis dilahirkan di sebuah rumah sederhana pada tanggal 15 Mei 1982 di kampung Lumpangang Kabupaten Bantaeng. Penulis merupakan anak kesebelas dari dua belas bersaudara.

         Penulis adalah lulusan tahun 1994 di SD Inpres Lasepang Kabupaten Bantaeng. Di tahun yang sama, penulis merantau keluar kabupaten untuk belajar di pondok pesantren Babul Khaer Kalumeme Bulukumba. Penulis menyelesaikan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah pondok pesantren tersebut pada tahun 1997 kemudian lanjut ke tingkat Madrasah Aliyah.

         Setamat dari Madrasah Aliyah, pada tahun 2000 penulis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Alhamdulillah, berkat doa kedua orang tuanya, penulis lulus di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Makassar. Pada tahun 2004, penulis berhak menyandang gelar sarjana pendidikan dan di tahun itu juga memulai pengabdian sebagai guru di MA Ma’arif NU Lasepang.

Masih banyak lagi memoar tentang Ibu dari penulis lainnya, Harga 100.000 silahkan miliki bisa memesan kepada penulis Sitti Zuhraeni, dkk 085242707437, atau penerbit di 081282180370 atau email penerbittataakbar@gmail.com 

Komentar